memusuhi tipi
sudah bukan rahasia kalo tipi sering dipersalahkan sebagai salah satu penyebab beberapa hal yang kurang positif,
ah well bilang saja penyakit masyarakat sejenis materialisme, kehidupan hedonis, pornografi dan banyak lagi, thanks to, kata orang, sinetron indonesia yang cuman sibuk mengumbar gaya hidup mahal serba mewah. tapi apa iya murni kesalahan tipi? so, kita mengadakan gerakan memusuhi tipi? jangan sampe kejadian kita mau memusnahkan nyamuk pakai bom. memang nyamuknya mati tapi ada efek samping yang lebih besar muncul daripadanya. terus buat apa? pertanyaannya sekarang kenapa begitu banyak orang suka menonton tipi? apa iya karena begitu kecanduan terhadap tayangan yang mengumbar kecantikan para artis dan ketampanan para aktor? apa iya karena begitu teradiksi terhadap kemewahan yang ditunjukkan? apa iya karena suka tayangan bermuatan agama tapi kok malah sibuk dengan hantu-hantuan itu? pernahkah terpikir banyak yang memilih menonton tipi karena tidak ada pilihan hiburan (yang murah) lainnya?
bukan hanya orang kaya yang memerlukan dan berhak menikmati hiburan. ketika uang adalah masalah yang harus dihadapi tiap hari, nanti siang makan apa atau malah nanti siang makan apa ngga ya, hiburan memang bukan menjadi suatu yang paling penting, tapi bukannya tidak penting kan? ke bioskop tentu saja tidak termasuk pilihan yang bisa dipilih karena harus melibatkan dikeluarkannya beberapa lembar ribuan rupiah untuk menikmatinya, mau ke taman, lihat saja negara kita ini, negara yang begitu kaya dengan cuaca yang hampir selalu dihangatkan sinar matahari berapa banyak taman umum yang kita miliki? apalagi pilihan sekedar menikmati musik dicafe, pergi ke taman hiburan. hmmm tentu saja bukan untuk mereka yang berduit cekak. bandingkan dengan tipi yang semakin murah, ngga perlu yang mereklah, yang penting keluar gambar dan suara cukuplah. atau setidaknya menonton bareng di kelurahan atau tetangga. bukan hal yang mengagetkan kan kalo kemudian tipi menjadi pilihan?
mungkin bukan hal yang bijaksana kalau kita melulu menyalahkan tayangan-tayangan televisi untuk semua hal-hal kurang baik yang terjadi di masyarakat kita. bukan ngga mungkin kan jika ada orang yang kurang beruntung menjadi dendam terhadap orang kaya seperti yang ditampilkan ditipi lalu melakukan kejahatan, mungkin pada saat yang sama ada beberapa yang merasa terhibur hanya karena menonton kehidupan mewah di sinetron-sinetron meski tidak benar-benar menikmatinya? meski tentu saja pada saat yang sama bukanlah hal yang bijaksana jika kita tidak melakukan apa-apa atas tayangan televisi yang ada. hanya mungkin jangan melulu menyalahkan. menyalahkan saja tidak akan membawa kita kemana-mana.
pertanyaannya apa yang bisa kita buat? ah andai kita bisa punya pilihan hiburan murah yang ngga menguras isi kantong. andai kita bisa mempunyai pilihan tayangan televisi yang edukatif tapi tetap menghibur. andai kita bisa punya kemampuan untuk memilih apa-apa yang berguna untuk kita tonton? dan andai-andai yang lain. bukan ngga mungkin kan? toh semuanya yang ada sekarang berawal dari angan-angan, dari andai-andai dan dari mimpi-mimpi …

doeljoni :
November 15, 2005 @ 2:22 pm
hehehe… iya ya
tapi seberapa sulitkah tipi menyediakan tayangan bermutu yang menghibur sekaligus mendidik ?
kenapa justru hiburan yang menjual angan-angan yang menjadi pilihan untuk ditayangkan ? Apakah karena biaya pembeliannya murah ?
*sekadar letupan pertanyaan yang masih berputar-putar di otak*
fahmi jelek :
November 15, 2005 @ 3:26 pm
ga punya tipi nggak pa pa, kan tetep bisa streaming? urusan berita RSS feed juga selalu lebih cepat
iya?
gita :
November 15, 2005 @ 3:39 pm
harusnya sbg komoditas hiburan yg murah meriah dan terjangkau, acara tivi lebih di set berkualitas dan dinamis…bukan yg seperti skrg ini, tp lagi2 salah siapa?
naga :
November 15, 2005 @ 4:25 pm
Saya pikir kita sebagai manusia mempunyai potensi untuk memilih apa yg terbaik bagi diri kita.
Betul tv adalah hiburan yang murah walau isinya belum tentu mendidik. Bagaimana dengan alternatif membaca?
Ada perpustakaan pemerintah maupun lembaga2 lainnya. Pembaca satu sama lain bisa bertukar2 buku, ada banyak jalan…
Kita sudah di”hukum” menjadi negara dunia ketiga - namun yg menyedihkan, orang-orang kita juga secara mental dan perbuatan, berbuat dan bertindak sebagaimana halnya bangsa yang belum maju.
Jadi salah siapa?
siapa yg mau maju dan berubah demi kebaikan, bisa mulai dari diri sendiri…
yanti :
November 15, 2005 @ 4:28 pm
sorry.. baca replymu buat Doeljoni, jadi inget omongan2nya Oom Raam
.
tapi cerita2 menjual mimpi emang ga hanya ada di Indonesia. di India juga sama kan, dan mungkin itu yang ditiru Oom Raam. ga tau apa di sana TV dan film juga dihujat. tapi seinget gw sih, selama hampir 2 bulan di sana, baca hujatan ttg TV & “sinetron” seperti di sini.
soal orang Indonesia haus hiburan, kayaknya bener banget. baru2 ini di deket rumah mertua gw ada kebakaran. daaannn.. orang berbondong2 dateng, pake motor kadang. trus pada nangkring di taman kecil deket situ, beli rokok, kacang goreng… udah berasa piknik banget deh!
yanti :
November 15, 2005 @ 4:31 pm
sorry, maksudnya GA pernah
Pipit :
November 15, 2005 @ 4:35 pm
Saya sih mau menyalahkan badan perencanaan kota. Lapangan golf udah terlalu banyak, yang penting harus memperbanyak taman kota. Fokus pembangunan kota hanya mall, gedung bertingkat yang kemudian terbengkalai, atau berbagai proyek ‘modern’ lainnya, bukannya taman umum untuk masyarakat. Lucunya negara Eropa malah giat dan bangga sekali dengan taman-taman kota mereka.
Ada ide, untuk semua konstruktor, setiap mau membangun apa aja harus juga membangun satu petak taman kota. Yang rimbun, nyaman dan gratis. Biar keluarga nggak harus ngendon di depan tv setiap waktu luang. Tapi bisa piknik di tengah kota gratos.
wông gragé :
November 15, 2005 @ 4:38 pm
Bukan nyalahin tipi sih. Tapi nyalahin stasiun tipi.
Jujur, emang banyak manfaatnya, walaupun banyak juga mudharatnya. Melarang tidak menonton TV ga mungkin lah. Sama dengan internet, banyak mudharat dan banyak juga mudharatnya (kayak sekarang ini, aku malah bikin komentar, bukannya kerja…
).
@doeljoni: stasiun TV bikin acara yg emang diprediksi bakal disukai. Apa mreka pernah mikirin soal tanggung jawab moral atau sosial?
Solusinya: bikin program alternatif, lakukan kontrol sosial (kyk nulis kolom/opini di koran, blog dll s.d demo u/ menekan si pembuat program), selektif nonton acara, dampingi & batasi jam nonton anak2 & kasih hiburan alternatif… etc
hericz :
November 15, 2005 @ 5:08 pm
Sinetron sux !
Komedi Nakal & Komedi Tengah Malam Rulez !
Hihihi
*kabuur*
Deny :
November 15, 2005 @ 5:23 pm
daripada menyalahkan tipi,
mending kitanya aja yang selektif
dalam memilih tayang telepisi yang pengen kita tonton
yuk na.
mulai dari diri sendiri.
D.K :
November 16, 2005 @ 12:51 am
televisi adalah salah satu bukti bahwa manusia itu kecenderungannya emang pengen meliat APA YANG PENGEN DIA LIAT. biarkan lah begitu! itu juga sifat kita kita sendiri kok. kalo mo menghujat, mau memaki, mau menyalahkan, silahkan hujat henry dan faraday yang menemukan gelombang elektromagnetis. blame them! karena mereka itulah yang bikin kita bisa menonton tipi.
dental :
November 16, 2005 @ 12:03 pm
Namanya juga Hiburan Ringan….
Sekarang secara tidak langsung tuhan ada di tivi, eksekusi mati, dunia iblis diumbar, hedonisme, reality show yg berlebihan…
salah2 bisa jadi pembodohan… nah sayangnya masy yg sudah bodoh yaaa makan mentah2 deh toxin sosial yang berselimut kenikmatan hiburan
Nyalakan tivi pilih kanal dan nikmati hiburan ringan nyawa tereksekusi… [KOIL]
noldie :
November 16, 2005 @ 1:11 pm
ito ku nan jelita…
gw sih emang ga terlalu doyan nonton tipi. ergh, tapi anehnya, biar jarang banget nonton tipi, tapi gw bisa bosen setiap ngeliat tipi. kenapa gitu? soalnya jam yang sama, hampir semua tipi menayangkan “acara” yang mirip2 semua. bete ga sih?
soal pembodohan, yah bener! gw juga suka bingung ngeliat para produser! bisa2nya rame2 bikin acara yg mirip semua *mulai dari sinetron remaja, hantu2an, reality show lah, dll* mungkin target utama adalah sisi komersilnya.
gw setuju dengan pendapat, kita mulai dari diri sendiri aja. ga usah terlalu mendiskreditkan tipi ato rumah2 produksi. toh mereka mau cari makan juga kan?
gw sih di rumah, daripada ngebiarin ponakan2 gw nonton sinetron ga jelas ato acara apapun itu, mendingan ngajakin mereka ke ezy, sewa vcd/dvd buat anak2.
sesy :
November 16, 2005 @ 1:36 pm
aku ngerti maksudnya kamu Na (atau mbak Nana?) harus diakui kalau TV memang hiburan n informasi yang murah meriah, jaman sekarang 500rb dah dapat TV berwarna sementara untuk bisa menikmati hiburan + informasi seperti kita butuh lebih dari 4 juta itupun yang standar (belum termasuk rekening telepon bulanan). aku bukan tipe orang yang sampe dg extrem musuhan ma TV sih cuma emang malas nonton TV aja kecuali MTV n acara2 yang bahas soal budaya n masak
soal kualitas tayangan, emang sih nyebelin banget tapi mungkin memang sedang masanya, mungkin suatu saat ketika orang jd lebih pinter mrk akan lebih pandai memilih tontonan, (muridku sendiri ada kok yang gak boleh nonton sinetron2 mengastanamakan ilahiah, hantu n peri2 ma ortunya.) mulai dari diri sendiri aja lagi Na.
windede :
November 16, 2005 @ 2:19 pm
televisi adalah ranah publik yang menyerobot ke wilayah privat kita secara tak terbendung. orang harus menelan apa pun yang muncul di layar kaca — karena tv di rumah kita menerima siaran yang “dipancarkan” oleh stasiun. ya… memang ada remote yang bisa mengatur apa yg perlu dan tdk perlu. namun kesadaran pengelola televisi untuk menampilkan yg positif masih lebih penting.
awaloeddin :
November 17, 2005 @ 9:25 am
nonton bola bareng bareng di kelurahan or warung kopi bisa nambah semangat kekeluargaan lho. yang belum kenal tetangga jadi tahu kalau ternyata di sebelah rumah ada cewek cakep
.
rio :
November 18, 2005 @ 5:24 pm
kembangin minat anak yang luas dari kecil. thank GOD, gue suka banget baca dari kecil jadi kalo acara tv basi, gue milih baca. dan kenyataannya, karena hampir semua acara tivi basi, gue nggak pernah nonton. tivi di kamar cuma buat muter dvd sama cd aja, hehe…
nikk :
November 29, 2005 @ 11:27 pm
What can I say more?
Bangsa ini butuh BANGET pendidikan yang mantap.
Buat siapapun juga.