November 15, 2005

memusuhi tipi

Posted under: bla bla bla @ 2:11 pm

sudah bukan rahasia kalo tipi sering dipersalahkan sebagai salah satu penyebab beberapa hal yang kurang positif, Image hosted by Photobucket.com ah well bilang saja penyakit masyarakat sejenis materialisme, kehidupan hedonis, pornografi dan banyak lagi, thanks to, kata orang, sinetron indonesia yang cuman sibuk mengumbar gaya hidup mahal serba mewah. tapi apa iya murni kesalahan tipi? so, kita mengadakan gerakan memusuhi tipi? jangan sampe kejadian kita mau memusnahkan nyamuk pakai bom. memang nyamuknya mati tapi ada efek samping yang lebih besar muncul daripadanya. terus buat apa? pertanyaannya sekarang kenapa begitu banyak orang suka menonton tipi? apa iya karena begitu kecanduan terhadap tayangan yang mengumbar kecantikan para artis dan ketampanan para aktor? apa iya karena begitu teradiksi terhadap kemewahan yang ditunjukkan? apa iya karena suka tayangan bermuatan agama tapi kok malah sibuk dengan hantu-hantuan itu? pernahkah terpikir banyak yang memilih menonton tipi karena tidak ada pilihan hiburan (yang murah) lainnya?

bukan hanya orang kaya yang memerlukan dan berhak menikmati hiburan. ketika uang adalah masalah yang harus dihadapi tiap hari, nanti siang makan apa atau malah nanti siang makan apa ngga ya, hiburan memang bukan menjadi suatu yang paling penting, tapi bukannya tidak penting kan? ke bioskop tentu saja tidak termasuk pilihan yang bisa dipilih karena harus melibatkan dikeluarkannya beberapa lembar ribuan rupiah untuk menikmatinya, mau ke taman, lihat saja negara kita ini, negara yang begitu kaya dengan cuaca yang hampir selalu dihangatkan sinar matahari berapa banyak taman umum yang kita miliki? apalagi pilihan sekedar menikmati musik dicafe, pergi ke taman hiburan. hmmm tentu saja bukan untuk mereka yang berduit cekak. bandingkan dengan tipi yang semakin murah, ngga perlu yang mereklah, yang penting keluar gambar dan suara cukuplah. atau setidaknya menonton bareng di kelurahan atau tetangga. bukan hal yang mengagetkan kan kalo kemudian tipi menjadi pilihan?

mungkin bukan hal yang bijaksana kalau kita melulu menyalahkan tayangan-tayangan televisi untuk semua hal-hal kurang baik yang terjadi di masyarakat kita. bukan ngga mungkin kan jika ada orang yang kurang beruntung menjadi dendam terhadap orang kaya seperti yang ditampilkan ditipi lalu melakukan kejahatan, mungkin pada saat yang sama ada beberapa yang merasa terhibur hanya karena menonton kehidupan mewah di sinetron-sinetron meski tidak benar-benar menikmatinya? meski tentu saja pada saat yang sama bukanlah hal yang bijaksana jika kita tidak melakukan apa-apa atas tayangan televisi yang ada. hanya mungkin jangan melulu menyalahkan. menyalahkan saja tidak akan membawa kita kemana-mana.

pertanyaannya apa yang bisa kita buat? ah andai kita bisa punya pilihan hiburan murah yang ngga menguras isi kantong. andai kita bisa mempunyai pilihan tayangan televisi yang edukatif tapi tetap menghibur. andai kita bisa punya kemampuan untuk memilih apa-apa yang berguna untuk kita tonton? dan andai-andai yang lain. bukan ngga mungkin kan? toh semuanya yang ada sekarang berawal dari angan-angan, dari andai-andai dan dari mimpi-mimpi …

18 Feedbacks »

  1. Gravatar

    doeljoni :

    November 15, 2005 @ 2:22 pm

    hehehe… iya ya

    tapi seberapa sulitkah tipi menyediakan tayangan bermutu yang menghibur sekaligus mendidik ?

    kenapa justru hiburan yang menjual angan-angan yang menjadi pilihan untuk ditayangkan ? Apakah karena biaya pembeliannya murah ?

    *sekadar letupan pertanyaan yang masih berputar-putar di otak*

    nana ..::tayangan sejenis itu murah? ya mungkin saja. mungkin juga karena ada factor demand. kebayang kan kalo orang susah disuruh nonton tayangan tentang orang susah juga? apa ngga mereka akan : alah kalo yang gitu sih kita ngalamin sendiri. plus fantasi itu memang selalu lebih menyenangkan, you know kita jarang bisa puas. selalu ingin lebih.

  2. Gravatar

    fahmi jelek :

    November 15, 2005 @ 3:26 pm

    ga punya tipi nggak pa pa, kan tetep bisa streaming? urusan berita RSS feed juga selalu lebih cepat ;) iya?

    nana ..::for many of us, we have the luxury to that privilege. buat yang lain tipi tetep pilihan yang murah meriah :mrgreen:

  3. Gravatar

    gita :

    November 15, 2005 @ 3:39 pm

    harusnya sbg komoditas hiburan yg murah meriah dan terjangkau, acara tivi lebih di set berkualitas dan dinamis…bukan yg seperti skrg ini, tp lagi2 salah siapa?

    nana ..::banyak komponen yang berperanan dalam penciptaan tayangan tipi yang ngag banget seperti sekarang tapi komponen yang sama juga bisa (kalo mau) berperanan dalam merubah semuanya. salah menyalahkan atau mencari sapa yang salah is not the biggest problem ;)

  4. Gravatar

    naga :

    November 15, 2005 @ 4:25 pm

    Saya pikir kita sebagai manusia mempunyai potensi untuk memilih apa yg terbaik bagi diri kita.
    Betul tv adalah hiburan yang murah walau isinya belum tentu mendidik. Bagaimana dengan alternatif membaca?
    Ada perpustakaan pemerintah maupun lembaga2 lainnya. Pembaca satu sama lain bisa bertukar2 buku, ada banyak jalan…
    Kita sudah di”hukum” menjadi negara dunia ketiga - namun yg menyedihkan, orang-orang kita juga secara mental dan perbuatan, berbuat dan bertindak sebagaimana halnya bangsa yang belum maju.
    Jadi salah siapa?
    siapa yg mau maju dan berubah demi kebaikan, bisa mulai dari diri sendiri…

    nana ..::betul jeng, aslinya banyak *hiburan* yang lain, tapi ngga semua punya akses yang kita nikmati kan? kayak ngga tau aja perpustakaan daerah yang memang gratis tapi koleksinya ngga apdet, plus banyak juga yang ngga bisa membaca :(
    sekali lagi tipi jadi pilihan atas beberapa problema itu.
    dihukum dengan cap sebagai negara ketiga? ya dikau benar sekali. nyari sapa yang salah mungkin bukan solusi mending nyari bijimana caranya kita bisa bergerak maju, nah itu dikau bener sekali lagi, dari diri sendiri ;)

  5. Gravatar

    yanti :

    November 15, 2005 @ 4:28 pm

    sorry.. baca replymu buat Doeljoni, jadi inget omongan2nya Oom Raam :D .

    tapi cerita2 menjual mimpi emang ga hanya ada di Indonesia. di India juga sama kan, dan mungkin itu yang ditiru Oom Raam. ga tau apa di sana TV dan film juga dihujat. tapi seinget gw sih, selama hampir 2 bulan di sana, baca hujatan ttg TV & “sinetron” seperti di sini.

    soal orang Indonesia haus hiburan, kayaknya bener banget. baru2 ini di deket rumah mertua gw ada kebakaran. daaannn.. orang berbondong2 dateng, pake motor kadang. trus pada nangkring di taman kecil deket situ, beli rokok, kacang goreng… udah berasa piknik banget deh!

    nana ..::haus hiburan yang murah (baca : gratis) :mrgreen: kayak pas kejadian bom sempet bete gara-gara ada yang ngelwan arus karena pengen liat tkp. hayyah mau setor nyawa apa? duh.

  6. Gravatar

    yanti :

    November 15, 2005 @ 4:31 pm

    tapi seinget gw sih, selama hampir 2 bulan di sana, baca hujatan ttg TV & “sinetron” seperti di sini.

    sorry, maksudnya GA pernah :D

    nana ..::hihihi dengan demikian ralat telat dipublikasikan :D

  7. Gravatar

    Pipit :

    November 15, 2005 @ 4:35 pm

    Saya sih mau menyalahkan badan perencanaan kota. Lapangan golf udah terlalu banyak, yang penting harus memperbanyak taman kota. Fokus pembangunan kota hanya mall, gedung bertingkat yang kemudian terbengkalai, atau berbagai proyek ‘modern’ lainnya, bukannya taman umum untuk masyarakat. Lucunya negara Eropa malah giat dan bangga sekali dengan taman-taman kota mereka.

    Ada ide, untuk semua konstruktor, setiap mau membangun apa aja harus juga membangun satu petak taman kota. Yang rimbun, nyaman dan gratis. Biar keluarga nggak harus ngendon di depan tv setiap waktu luang. Tapi bisa piknik di tengah kota gratos.

    nana ..::yoiiiiiih, *bayangin punya taman kota dengan air mancur terus kasi makan burung-burung remah-remah roti while browsing pake WIFI gratisan fasilitas dari pemerintah, ada cowok cakep lewat *wink-wink* hihihihi…*

  8. Gravatar

    wông gragé :

    November 15, 2005 @ 4:38 pm

    Bukan nyalahin tipi sih. Tapi nyalahin stasiun tipi. :D Jujur, emang banyak manfaatnya, walaupun banyak juga mudharatnya. Melarang tidak menonton TV ga mungkin lah. Sama dengan internet, banyak mudharat dan banyak juga mudharatnya (kayak sekarang ini, aku malah bikin komentar, bukannya kerja… :D ).

    @doeljoni: stasiun TV bikin acara yg emang diprediksi bakal disukai. Apa mreka pernah mikirin soal tanggung jawab moral atau sosial? :(

    Solusinya: bikin program alternatif, lakukan kontrol sosial (kyk nulis kolom/opini di koran, blog dll s.d demo u/ menekan si pembuat program), selektif nonton acara, dampingi & batasi jam nonton anak2 & kasih hiburan alternatif… etc

    nana ..::yap. setupjuh dah! ribut nyalahin ngga akan membawa kita kemana-mana. alih-alih dapat solusi adanya malah makin parah masalahnya.

  9. Gravatar

    hericz :

    November 15, 2005 @ 5:08 pm

    Sinetron sux !

    Komedi Nakal & Komedi Tengah Malam Rulez !

    Hihihi

    *kabuur*

    nana ..::komedi macam apakah ituh kalo boleh saya tahu? nakal yang sperti apah? :mrgreen:

  10. Gravatar

    Deny :

    November 15, 2005 @ 5:23 pm

    daripada menyalahkan tipi,
    mending kitanya aja yang selektif
    dalam memilih tayang telepisi yang pengen kita tonton

    yuk na.
    mulai dari diri sendiri. :D

    nana ..::yap benar! bertanggungjawab terhadap diri sendiri termasuk dalam memilih tayangan yang berguna, entertaining yet educative.
    cuman hihihi aku ndak pernah nonton tipi aslinya, internet jauh lebih menarik :mrgreen:

  11. Gravatar

    D.K :

    November 16, 2005 @ 12:51 am

    televisi adalah salah satu bukti bahwa manusia itu kecenderungannya emang pengen meliat APA YANG PENGEN DIA LIAT. biarkan lah begitu! itu juga sifat kita kita sendiri kok. kalo mo menghujat, mau memaki, mau menyalahkan, silahkan hujat henry dan faraday yang menemukan gelombang elektromagnetis. blame them! karena mereka itulah yang bikin kita bisa menonton tipi.

    nana ..::dan kecenderungan UNTUK MENDENGAR APA YANG PENGEN DIA DENGAR. lha emang kalo udah nyalahin kenapa? yang disalahin juga udah ngga bisa membela diri :mrgreen:

  12. Gravatar

    dental :

    November 16, 2005 @ 12:03 pm

    Namanya juga Hiburan Ringan….

    Sekarang secara tidak langsung tuhan ada di tivi, eksekusi mati, dunia iblis diumbar, hedonisme, reality show yg berlebihan…

    salah2 bisa jadi pembodohan… nah sayangnya masy yg sudah bodoh yaaa makan mentah2 deh toxin sosial yang berselimut kenikmatan hiburan

    Nyalakan tivi pilih kanal dan nikmati hiburan ringan nyawa tereksekusi… [KOIL]

    nana ..::dasar koil lover luuuuu :p

  13. Gravatar

    noldie :

    November 16, 2005 @ 1:11 pm

    ito ku nan jelita…

    gw sih emang ga terlalu doyan nonton tipi. ergh, tapi anehnya, biar jarang banget nonton tipi, tapi gw bisa bosen setiap ngeliat tipi. kenapa gitu? soalnya jam yang sama, hampir semua tipi menayangkan “acara” yang mirip2 semua. bete ga sih?

    soal pembodohan, yah bener! gw juga suka bingung ngeliat para produser! bisa2nya rame2 bikin acara yg mirip semua *mulai dari sinetron remaja, hantu2an, reality show lah, dll* mungkin target utama adalah sisi komersilnya.

    gw setuju dengan pendapat, kita mulai dari diri sendiri aja. ga usah terlalu mendiskreditkan tipi ato rumah2 produksi. toh mereka mau cari makan juga kan?

    gw sih di rumah, daripada ngebiarin ponakan2 gw nonton sinetron ga jelas ato acara apapun itu, mendingan ngajakin mereka ke ezy, sewa vcd/dvd buat anak2.

    nana ..::setuju ito, ponakanku satu-satunya juga ngga kita kasi nonton tipi palingan vcd/dvd keluaran bbc yang educative banget. tapi too bad ngga semua orang punya access to privileges like ours kan? nah untuk merekalah itu tanpa mendiskreditkan pihak manapun *toh buat apa?* marilah kita mulai melakukan sesuatu. mau ngetuk rumah pak sby? :mrgreen: kapan hari dilarang pake baju seksi juga wacana doang akhirnya! *sigh*

  14. Gravatar

    sesy :

    November 16, 2005 @ 1:36 pm

    aku ngerti maksudnya kamu Na (atau mbak Nana?) harus diakui kalau TV memang hiburan n informasi yang murah meriah, jaman sekarang 500rb dah dapat TV berwarna sementara untuk bisa menikmati hiburan + informasi seperti kita butuh lebih dari 4 juta itupun yang standar (belum termasuk rekening telepon bulanan). aku bukan tipe orang yang sampe dg extrem musuhan ma TV sih cuma emang malas nonton TV aja kecuali MTV n acara2 yang bahas soal budaya n masak :P
    soal kualitas tayangan, emang sih nyebelin banget tapi mungkin memang sedang masanya, mungkin suatu saat ketika orang jd lebih pinter mrk akan lebih pandai memilih tontonan, (muridku sendiri ada kok yang gak boleh nonton sinetron2 mengastanamakan ilahiah, hantu n peri2 ma ortunya.) mulai dari diri sendiri aja lagi Na.

    nana ..::bukan cuman masalah mulai dari diri sendiri sesy, my concern is too many people easily blaming tivi telecasts for many of the current problems dan semua solusi mentok dalam kadar nyalahin, demo, dan yap cuman wacana…
    as for me, i never watch tv, internet interests me more. so kalo dirumah ya ngenet sambil dengerin musik. tipi cuman jadi ajang buat nonton vcd/dvd, itupun sering digantikan oleh monitor :mrgreen:

  15. Gravatar

    windede :

    November 16, 2005 @ 2:19 pm

    televisi adalah ranah publik yang menyerobot ke wilayah privat kita secara tak terbendung. orang harus menelan apa pun yang muncul di layar kaca — karena tv di rumah kita menerima siaran yang “dipancarkan” oleh stasiun. ya… memang ada remote yang bisa mengatur apa yg perlu dan tdk perlu. namun kesadaran pengelola televisi untuk menampilkan yg positif masih lebih penting.

    nana ..::iyaah udah punya kesadaran untuk memilih tayangan eh semua pilihan yang ada sejenis alias ngga layak tonton. duh.

  16. Gravatar

    awaloeddin :

    November 17, 2005 @ 9:25 am

    nonton bola bareng bareng di kelurahan or warung kopi bisa nambah semangat kekeluargaan lho. yang belum kenal tetangga jadi tahu kalau ternyata di sebelah rumah ada cewek cakep :D .

    nana ..::lho ada cewek cakep doyan nonton bola di kelurahan or warkop? :mrgreen: saya ngga lho padahal saya cakep huihihihihihi

  17. Gravatar

    rio :

    November 18, 2005 @ 5:24 pm

    kembangin minat anak yang luas dari kecil. thank GOD, gue suka banget baca dari kecil jadi kalo acara tv basi, gue milih baca. dan kenyataannya, karena hampir semua acara tivi basi, gue nggak pernah nonton. tivi di kamar cuma buat muter dvd sama cd aja, hehe…

    nana ..::sama rio, aku juga ngga suka nonton tipi, buku dan internet jauh lebih mempesona, so kalo dirumah kalo ngag ngadepin monitor ya baca buku atau ya apes2nya nonton picidi :P

  18. Gravatar

    nikk :

    November 29, 2005 @ 11:27 pm

    What can I say more?
    Bangsa ini butuh BANGET pendidikan yang mantap.
    Buat siapapun juga.

    nana ..::definitely!

Leave a comment

(required)

(required)