berbeda bukan dosa.
seberapa sering yah kita mengingini sesuatu karena it is nice to have dibanding karena we have to have. karena pengaruh para marketer seperti kata andry? karena gengsi? karena yang lain punya, kenapa aku tidak? mati gaya kalo ngga punya? belum lagi karena : doh udah capek-capek kerja gituloh, terserah dong mau aku apain duitku? lah kan pake duitku sendiri dan lebih banyak lagi alasan. you do the thinking
dulu pernah sekali waktu seorang teman entah bercanda entah serius bilang begini : yah gini deh na, nasib mantan negara jajahan, adanya berkompensasi dengan pengen punya semuanya karena dulu serba ngga punya, serba kekurangan. hantam kromo ajah masalah perlu atau ngga perlu. yang penting punya. kalo perlu disimpen yang penting punya meski tak ada guna. hmmmm kok in a sense bener yah?
tapi masak iyah sih cuman gara-gara itu? gara-gara dulu dijajah? uik. bisa bisa buat boosting retail business para usahawan jadi berpikir soal menjajah suatu bangsa dulu nih? eh tapi kita kan emang dijajah yah? dibombardir dengan begitu banyak iklan yang sliwar sliwer di segala jenis media apalagi tipi, that magical box dengan serangan terhadap panca indra penglihatan dan pendengaran kita sekaligus. doh. ini tadi mo ngomong apa yah? *back to sanity mode : on*
mungkin ngga yah, it is nice to have habit itu makin terpupuk dan terpelihara karena alasan kepuasan. beberapa kali dari obrolan dengan beberapa orang kok kayaknya terkadang it is nice to have habit itu dipicu hanya karena keinginan demi kepuasan diri sendiri kalo bisa ngalahin orang lain, biar gengsi tetap terjaga, citra diri selalu positif (in what sense? in front of whom?)
aha! citra diri! pernah ngga ngamatin bagaimana most of indonesian itu kembar. lagi demam belah pinggir, rasanya semua orang berbondong-bondong ke salon ganti belahan dan pake poni. lagi ngetrend pake gelang atas nama charity semua pake ngga penting pada ngerti maksudnya apa kagak, lagi hot-hotnya ipod rasanya ngga seru kalo nongkrong kuping telanjang ngga pake earpieces huhuhu. in short dandanan gaya style kembar. uhuk. berlaku buat rok mini, tank top, baby tee, potongan rambut jabrik, piercing, temporary tattoo dan segala macam trend yang pernah dan masih berlaku.
so gimana ngga it is nice to have jadi berkembang subur. lha semua merasa wajib kudu harus ngikutin perkembangan jaman (lebih ke ikut-ikutan sih kayaknya uhuk) so ya yang seneng para retailer. dagangan laris. tinggal ngeliat trend yang sedang berlaku dan menjadikannya komoditas utama. sekarang pertanyaannya jadi : kenapa sih kita selalu pengen sama? selalu ngikutin the main stream? cari aman? takut berbeda? yang beda itu salah? yang beda itu ngga bener?
are we lacking character? or are we too afraid to have or show our own character for the fear of being different from the rest of the group? being different in big nation with vast differences where the majority, regardless they are ethnic groups, religions, customs, and others, has the tendency to overrule the minority? (not) a wise move?

doeljoni :
August 31, 2005 @ 1:28 pm
setuju… berbeda bukan dosa…
dan memusuhi perbedaan juga bukan sikap yang bijak
karena gak mungkin manusia itu disamaratakan…
ideologi komunis yang begitu semangat mendukung samarata juga udah terbukti gagal
sementara ideologi barat yang kapitalis dan selalu mengekspos kebebasan tanpa batas serta ‘trend mode’ terkini juga gak bener. karena yang jadi korban adalah komunitas masyarakat (dunia) yang lebih luas lagi.
maka jadilah penonton, agar bisa lebih bening melihat…
setidaknya kita gak menjadi ‘buangan sampah’ pemikiran mereka hahahaha…
naga :
August 31, 2005 @ 2:24 pm
kalo ngikutin trend atau berkeinginan akan sesuatu hanya untuk “mengalahkan” org lain, itu mah org2 yang masih “superficial”….he heh…
“jadi org yg berbeda” dan kebetulan tinggal di negara kita…wuih….spt. ikan di daratan. ngga bisa komentar lagi, krn. aku bukan termasuk org. yg mengikuti arus.
truegossiper :
August 31, 2005 @ 2:26 pm
“kenapa sih kita selalu pengen sama? selalu ngikutin the main stream? cari aman? takut berbeda? yang beda itu salah? yang beda itu ngga bener?”
bukan karena bener ato ngga bener. but karena niru itu lebih gampang.
Young Believer :
August 31, 2005 @ 3:46 pm
dua2nya sering gw alami, ambisi it’s nice to have dan have to have…
tapi yakin lo gak terbuai arus juga na?
viga :
August 31, 2005 @ 4:51 pm
enak kalo kita jadi trenseter *eh nulisnya bener gak tuh?*
marxist, tapi bukan komunis :
August 31, 2005 @ 8:42 pm
berbeda jelas bukan dosa. karenanya saya pake k750
#doeljoni : eh eh, jangan samaratakan komunis dengan ideologi leninisme-stalinisme ya.
bukan cuma islam yang bisa pecah belah, materialisme absolut ala socrates dan hegel juga banyak cabangnya.
tanpa komunis, revolusi industri bisa melahap seluruh hutan amazon dan akibatnya mungkin kita sekarang sedang internetan pakai masker gas. gak mungkin ada kesadaran buruh dengan serikat pekerja, gak mungkin ada UU tenanga kerja, gak mungkin ada upah minimum regional bagi buruh dan “programmer”. emang mau anda digaji 200ribu perbulan untuk mengerjakan instalasi router ?
masalahnya, mainstream selalu mengkambinghitamkan dan menyamaratakan komunis-sosialis-atheis menjadi satu paket. padahal trinitias ketiganya juga berbeda, sama seperti cinta-benci-ilahiah.
makanya, saatnya mengkaji konsep ketuhanan yang anda peluk. bertuhan karena mainstream orang tua masing-masing yang bertuhan (nice-to-have), atau beragama karena sadar secara mandiri dan merdeka bahwa agama itu have-to-have ?
jawabannya ? entah.. mari kita SMS Galileo dengan K750 saya.. hihih..
|theshadow| :
September 1, 2005 @ 2:41 am
karena akuw berbeda makanyah dikatain freaky guy..
tapi dengan berebdanya aku….diriku jadi yang paling diuber2 cew
doeljoni :
September 1, 2005 @ 3:34 am
#Marxist :
-paragraph 1 : yup bener,.. kalo ada seribu kepala baca blog ini, maka ada seribu pemahaman juga yang berbeda. Cocok dengan tulisannya NN, berbeda bukan dosa hehehe
-paragraph 2 : lho perlawanan gitu kan gak cuman monopoli komunis ?
coba liat sejarah. Bukannya menafikkan andil mereka lho….
-paragraph 3 : mainstream media barat maksudmu ? hehehe… aku gak membahas trinitas ketiganya lho. cuman touching aja antara dua kutub yang berbeda.
-paragraph 4 : nah setuju… mau mbantuin saya ngaji ?
insyallah saya udah gak ikut mainstream lagi hehehe
andry :
September 1, 2005 @ 7:52 am
#doeljoni.
I think you miss the point I made.
Saya cuma keberatan di statement ini :
My point : samarata itu bukan komunis. bahkan lenin-stalinpun ndak gitu. yang murni sama rata itu malah pikiran Tolstoy dan borjuis-borjuis gadungan..
Iya perlawanan bukan monopoli komunis, tapi dalam era booming revolusi industri, terutama di eropa timur dan “the great migration” ke dunia baru amerika (awal abad 20), komunis adalah rajanya. jayanya cuma 30 tahunan kok. coba cari di google dengan kata kunci : socialista.
islam waktu itu mlempem. bukti nyata : kesultanan turki bubar jalan.
ndak, mainstream kita malah. media barat justru menganggap komunis sebagai atheis (god made man or man made god, pidato JFK saya lupa tahun berapa).
haha, selebihnya, saya rasa itu salah ibu guru kita. mulai kecil kita dicekoki seolah-olah komunis itu genderuwo jahat. most of us tumbuh jadi komunistophobi. sangat menyedihkan, kita takut dengan musuh sebelum berperang.
(lho Na, aku kok nyepam ?
)
doeljoni :
September 1, 2005 @ 8:40 am
ok
then I correct this perception
Nana,.. more blog again plz
Lisa :
September 1, 2005 @ 10:11 am
doh… kok jadi pengen beli sandal ya… :p
bay :
September 1, 2005 @ 2:23 pm
baca ‘to have or to be’-nya erich fromm ajah
bintangjatuh :
September 1, 2005 @ 2:34 pm
aku punya pertanyaan nih, kalo mainstream itu udah bener, (meskipun katanya tidak ada yang absolut di jagat ini kecuali Dia), apakah kita harus membuat perbedaan? cuma sebagai penyeimbang atau pengen beda karena gaya aja? atau balik lagi ke ego manusia itu sendiri?
bay :
September 2, 2005 @ 8:09 am
nana ..:: …hmm sebagai perlawanan mungkin ya. kalo udah terlalu absolut biasane malih gak bener.
nek absolut vodka gak peduli bener gak bener, doyan aku
* sorry, komen gak mutu gara2 bete libur kok kudu ngurusin tamu keleleran ning Bali *
pipit :
September 2, 2005 @ 4:59 pm
Indonesian society highly values group conformity. Society rules out individuals. Being different always perceived as disturbing harmony. That is why people prefer to follow the flow, as they are afraid to be drowned once they try to go against it.
Bagi kebanyakan orang, lebih mudah jadi kambing yang dicucuk hidungnya, daripada jadi gembala yang menarik kambing tersebut. Wong tidak usah berpikir, tidak usah memilih, cukup mengikuti dan mendapatkan label in fashion.
Salam kenal, tulisannya bagus
golda :
September 16, 2005 @ 6:47 pm
biasanya menjadi beda dari trend yg berlangsung itu butuh keberanian dan sifat individual yg kuat. kadang gw bisa jadi trendsetter, kadang menjadi pengikut, kadang juga bisa beda sendiri tanpa mikirin trend saat itu.
tapi gw sih orangnya cenderung cuek.. malah mungkin bisa dibilang terlalu cuek.. hehehe..
nana | rambling thoughts | » hati-hati mengingini :
September 28, 2005 @ 5:25 am
[…] ini yang seringkali terlewat terpikirkan. sibuk mengingini hingga lupa esensi mengingini tadi itu untuk apa. ngga heran makanya pas giliran keinginan terpenuhi, ya udah aja gitu. semuanya jadi ngga penting lagi. jadinya seringkali lebih menyenangkan proses mengingininya. proses memilikinya biasa saja. bermimpi dan ketika mimpi menjadi kenyataan. namanya juga mimpi saat kita tidur, ya semuanya revolve around ourself, kalo jelek ya udah aja buru-buru bangun, kalo bagus, pas bangun buru-buru balik bantalnya, sapa tahu jadi kenyataan . nah kalo kenyataan, ya ada banyak faktor luar, alhasil terkadang kenyataan ngga sesuai dengan mimpi awalnya. jadi kecewa. hhhhh…. keinginanku yang satu itu kayaknya cuman karena aku terlalu mengingini deh, ngga banyak alasan yang bisa aku kemukakan di balik mengingininya *jangan-jangan cuman karena nice to have yah?, hmmm….. mission aborted? […]